Senin, 26 November 2012

hidup itu berasal dari mimpi

I Made Iwan Darmawan adalah anak bungsu dari dua bersaudara, ia terlahir di bidan daerah Kesiman, Denpasar Timur. Iwan terlahir dari pasangan I Made Artawan dan Ni Nyoman Murtiasih, nama saudaranya adalah I Putu Dedy Sutrisna dan mereka hidup dengan ekonomi yang kurang.
Ketika kecil ia bersekolah di TK Widya Kumara, selanjutnya dia melanjutkan di SD 16 Kesiman, karena krisis ekonomi membuat iwan dan keluarganya pindah ke desa. Mulai saat itu ia bersekolah di SD N 1 Dawan Kaler. Sejak SD, ia mulai membantu kedua orang tuanya membuat berbagai kerajinan dari daun kelapa dan mengangkut buah kelapa (ngajang nyuh). Dari hasil kerja kerasnya ia hanya mendapat upah sebesar Rp. 5000 per hari, baginya uang Rp. 5000 itu sangat berharga untuk kehidupan keluarganya.
Setelah lulus SD, Iwan menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Dawan. Berkat usaha dan kerja kerasnya, sekarang ia bersekolah di SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy). Baginya “walaupun kita berasal dari keluarga yang kurang mampu, tidak surut semangat untuk meraih prestasi” begitu ucapnya.
Selama ia menjalani kehidupannya beberapa prestasi telah ia raih baik akademik maupun non-akademik. Untuk prestasi di bidang akademik di antaranya juara 2 di SD, juara 1 umum di SMP, olimpiade fisika tingkat kabupaten.
Untuk  prestasi non-akademik di antaranya juara harapan 3 tari wirayuda di bali tv, juara harapan 1 tari baris, juara harapan 1 tari kebyar duduk dan juara favorit tari baris di art center, jambore pramuka tingkat daerah dan tingkat nasional dan juga lomba menyanyi, dan baru-baru ini ia mendapat juara dalam lomba gerak jalan.
Berkat semua usahanya, Iwan memperoleh kesempatan untuk mengikuti jambore pramuka di Palembang, disana Ia dapat bertemu langsung dengan bapak presiden kita yaitu “Susilo Bambang Yudhoyono” seluruh pengalaman itu sangat berharga bagi Iwan Darmawan.
 Iwan memiliki hobi yang lumayan banyak , mulai dari menari, menyanyi, main gitar, sepak bola, pramuka, hampir semua itu pernah ia coba. Dimata teman-temannya  Iwan dikenal sebagai sesosok yang ceria dan di masyarakat ia juga dikenal sebagai anak yang multi talenta, tetapi ia tidak pernah memilih-milih teman dalam bergaul.
Semangat iwan tidak akan pernah padam, ia akan terus mencoba, karena motivasinya adalah ingin membahagiakan keluarganya dan “hidup itu berasal dari mimpi dan hidup itu harus ada usaha dan kerja keras jika kita ingin sukses”

Kamis, 22 November 2012

RINGKASAN PERJALANAN LOMBA LTT KOPERASI




Persiapan mengikuti lomba LTT Koperasi kami lakukan dua minggu sebelum lomba ditingkat kabupaten berlangsung. Saya didampingi rekan yaitu Kadek Ayu Vergianti Agustini dan Kadek Dedi Sahana bersama Pembina yang menurut kami begitu hebat yaitu Miss Citra. Satu minggu awal kami melakukan pembinaan setelah pulang sekolah yaitu dari jam 16.00 – 18.00, pembinaan saaat itu kami lakukan dengan intensif, kami melanjutkan belajar pribadi di malam hari. Minggu kedua (satu minggu sebelum lomba) kami mendapat dispen untuk pembinaan dari pagi pukul 07.00 hingga sore pukul 18.00. lomba dimulai pagi hari pukul 09.00 tapi kami berangkat dari sekolah pukul 07.00.
Dalam perlombaan, babak penyisihan dilakukan di Kantor Dekopinda Buleleng, yang mana pesertanya berjumlah tujuh tim. Test awal adalah test objektif kemudian disusul dengan tes isian singkat dan hitungan. Dalam babak ini kami memperoleh peringkat kedua. Kami merasa begitu senang dan antusias untuk babak final keesokan harinya. Final dilaksanakan di Wantilan RRI Singaraja, yang penayangannya on air di radio RRI. Ketika lomba dimulai dan kami mendapat undian untuk duduk di podium A, suasana sangat menegangkan. Babak pertama adalah babak amplop kemudian babak pemahaman konsep, dan terakhir babak cepat-cepatan. Yang paling seru adalah babak cepat-cepatan, karena terjadi kejar-kejaran skor. Hingga skor tertinggi jatuh ke tim kami, dan berhak untuk mengikuti lomba ke tingkat provinsi.
Hari yang tersisa dipakai untuk menambah pemahaman tentang materi koperasi untuk lomba di tingkat provinsi. Pembinaan lebih intensif, karena perlombaan diadakan pada 31 Juli 2012. Namun kami berangkat sehari sebelumnya untuk menghindari rasa mabuk. Kami berangkat di dampingi oleh Pak Mudita, guru bahasa Indonesia kami. Menuju Hotel Dewi Karya tempat kami beristirahat. Sesampai di hotel, kami bergegas mandi kemudian mandi dan kemudian belajar. Keesokan harinya kami bangun jam 4.00 a.m. untuk belajar untuk mereview materi kemarin. Kami berangkat pukul 07.00 pagi, kami merasa percaya diri dengan pakaian SA ketika sampai di tempat lombayaitu di Hotel Nuansa Indah. Hotel tersebut begitu megah menurut kami. Perlombaan di mulai pukul 9.00 pagi. Saat itu perlombaan yang diwakili oleh masing-masing kabupaten dibagi menjadi 3 gelombang, kami mendapat gelombang pertama bersama 2 lawan lain dari provinsi lain. Salah satu dari mereka adalah pemenang juara umum atau piala bergilir tahun lalu. Hal tersebut membuat kami sedikit minder
                Lomba pun dimulai, babak pertama adalah soal amplop. Kami menjawab dengan begitu mantap, tapi hal tersebut juga tejadi pada group lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan soal bagan dan soal hitungan, lagi-lagi kami menjawab soal tersebut dengan baik sehingga memperoleh skor yang baik. Dan babak terakhir adalah soal cepat-cepatan, dalam babak ini kami cukup tegang karena babak ini adalah kesempatan untuk mengejar ataupun memperoleh point tinggi. Skor kami dengna SMK Negara kejar-kejaran, karena ini bukan masalah pintar atau engggak tapi cepat dan tangkas. Hal hasil kami menang dan berhak maju ke babak final. Sementara kami kasihan melihat SMK Negara menangis menyesali kekalahannya. Setelah gelombang 2 dan 3 berakhir dan diperoleh pemenang, kami diadu. Tidak disangka lawan kami difinal cukup tangkas untuk kami yaitu dari SMK Negara. Kami kali ini fluktuasi skor lebih dinamis dari sebelumnya. Hingga soal cepat-cepatan skor kami dengan mereka tak pernah diam. Hingga pada soal terakhir yang merupakan pertanyaan spontan dari dekopinwil beserta jajarannya. Salah satu soall terakhir yang paling menarik adalah soal kedua, karena siapa saja yang dapat menjawabnya akan memperoleh isi dompet dari wakil dekopinwil yang berupa uang. Dengan rasa PD kami menerima tantangan tersebut hingga akhirnya tombol kami terpencet lebih dulu dan kami menjawab soal yang diberikan. Kami berhasil menjawabnya. Uang dalam dompet itupun kami ambil sebesar 300 ribuan. Soal tersebut menyebabkan skor kami dengan SMK Negara sama atau imbang. Kemudian berlanjut ke soal paling akhir yang menentukan juara. Dalam soal ini rasa tegang benar-benar kami rasakan. Tangan diatas tombol bergetar dan berkeringat. Udara yang kami hirup kami coba untuk menenangkan raga kami. Hingga kata terakhir dari soal terakhir dibacakan dan tteeettt….. bel dari SMK lebih dulu berbunyi dan mereka menjawab. Tapi ternyata jawaban mereka salah hingga harus dikurangi 100 dan kemenangan ada di pihak kami sebagai juara 1. Dan kami pulang dengan rasa bangga, karena sebagai pendatang baru dalam lomba tersebut kami sudah berhasil membondong piala bergilir tersebut ke sekolah.

                                                                                                                                                                Krisnawan

Kamis, 15 November 2012

Go Ari Kempo


Dalam rangka memperingati Porseni Kabupaten (Porkab), Pemerintah Kabupaten Buleleng menggelar kejuaraan kempo se-kabupaten buleleng yang diikuti seluruh kecamatan. Memang bukan kali pertama aku mengikuti kejuaraan kempo, biasanya aku mewakili kabupaten buleleng ketika kejuaraan tingkat Provinsi. Kalau pun ada kejuaraan Porseni biasanya aku mewakili Kecamatan Busungbiu. Sekarang aku bersekolah di SMA Negeri Bali Mandara(Sampoerna Academy) yang bertempat di Kecamatan Kubutambahan jadi kebanggaan yang begitu besar ku rasakan ketika, diberi kepercayaan penuh untuk mewakili kecamaatan kubutambahan dalam ajang kejuaraan porseni 2012 ini. Sebenarnya sebelum  mengetahui kejuaraan ini, sudah ku bina beberapa teman, siswa Bali Mandara untuk berlatih Kempo, jadi tidak sulit bagiku untuk mencari atlet.
 Dua minggu sebelum kejuaraan kami berlatih keras, untuk menyambut kejuaraan tersebut. Setiap sore aku melatih teman-teman, sambil melatih diriku sendiri. Ketika melatih, alat-alat latihanlah yang menjadi kendala kami, karena memang fasilitas latihan yang belum memadai. Aku berusaha melatih dengan caraku  yaitu berlatih dengan bayangan yaitu bertarung dengan imajinasi.  Sampai suatu saat terlintas dalam benakku untuk meminjam alat latihan kepada pengurus Kempo Kabupaten Buleleng. Beruntung aku dikenal sebagai atlet Buleleng ,jadi tidak segan mereka memfasilitasiku 2 alat latihan. Alat inilah yang ku gunakan untuk melatih teman-teman. Tapi itu tidak cukup, jadi terpaksa kami menggunakannya secara bergantian, meskipun memang tidak efficient. Selain melatih, sebenarnya aku mempunyai jadwal latihan bersama tim Kempo Buleleng setiap minggu, karena itu memeng kewajiban setiap atlet. Tapi aku tetap semagat melatih teman-teman. Kejuaraan sudah dekat, kami mulai menimbang berat badan, dan beberapa kelas telah terpenuhi. Aku turun di kelas 60 kg putra dan juga ikut  dalam kategori seni berpasangan campuran.
Sepertinya kejuaraan Porseni Kempo kali ini berbeda dari yang terdahulu. Sekarang hampir setiap Kecamatan merekrut atlet luar Kabupaten sebagai wakil kecamatan. Itu bukan merupakan halangan bagiku, karena sesungguhnya kami mengikuti kejuaraan, untuk mencari pengalaman. Satu hari sebelum kejuaraan, berbondong kami ke tempat kejuaraan untuk mengikuti pembukaan. Masalah ku temukan kembali, kebanyakan atlet Kubutambahan yang belum mempunyai seragam Kempo, wajar karena beberapa atlet yang ku latih memang baru. Jadi itu, tanggung jawab ku sebagai pelatih untuk memfasilitasi mereka seragam. Kebetulan, selama menjadi atlet Buleleng, aku mempunyai banyak teman yang memang sering ikut serta dalam berbagai kompetisi Kempo jadi pastinya mereka mempunyai seragam lebih. Akupun berusaha meminjam seragam itu kepada mereka, 14 seragam berhasil ku pinjam untuk atlet-atlet baru Kubutambahan, satu hari sebelum kejuaraan.
Aku mempersiapkan stamina altlet agar tetap terjaga, kejuaraan tiba hampir setengah hari kami mengikuti kejuaraan tersebut.  Ternyata 3 atlet kubutambahan yang ku latih termasuk aku lolos ke babak final sedangkan 3 orang lain telah terhenti pada posisi ketiga. Begitu juga kategori seni yang ku ikuti, sangat tidak etis! guru yang mengajarkan ku kempo, ikut serta dalam lomba seni ini. Aku tetap semangat dan hasilnya aku terpaut 2 nilai dari guruku. Aku harus iklas berada diposisi kedua.
Saat Final, 2 orang temanku telah berhasil memenangkan pertandingan dan yang lain telah terhenti pada posisi kedua. Sekarang saatnya aku, ternyata lawanku adalah atlet denpasar yang memang hebat dalam hal bertanding. Aku tidak gentar dan beberapa menit kemudian, kami berdua bertanding dengan sangat gigih dan akhirnya setelah perpanjangan waktu, aku pun berhasil ditaklukan. Mungkin belum saatnya aku memenangkan pertandingan ini. Aku harap melalui pertandingan ini, aku bisa mengasah skill-skill, bisa mangambil nilai dan makna. Bisa kujadikan panutan kedepannya .Akhirnya kami pulang dengan membawa 2 emas, 3 perak, dan 3 perunggu. Kami pulang dengan rasa sangat puas dan bahagia. Satu hari sesudah kejuaraan, kami merenung sebentar dan berharap kejuaraan ini bisa memberikan kami manfaat yang berarti.

“Tetap Semangat, Rajinlah Belajar, Raih Mimpi Masa Depan, dan Selalu ber-Doa Walau dengan Ekonomi yang Pas – pasan”



            Gadis yang bernama Ayu Putu Gita Cahyani, Lahir di Dauhwaru, 8 Agustus 1997 Kabupaten Jembrana – Bali. Sekarang berusia 15 tahun, dan memiliki Adik Kembar yang bernama Kadek Darma Yuda dan Komang Ari Saputra. Anak Pertama dari pasangan I Ketut Cahyadi dan Ni Made Parniini di kenal sebagai gadis yang Humoris, dan senang membantu Orang Tua serta teman – temannya ini, dia kerap di sapa Gita. Sehari-hari dia kerap membantu kedua orang tuanya membuat jajan Bali, menjual Dupa, membuat banten yang nantinya akan di jual kepasar. Walaupun sibuk bekerja, dia tidak lupa meluangkan waktunya untuk belajar.
Dia tergolong anak yang cukup pintar. Ketika duduk di bangku smp dia banyak megikuti kegiatan olimpiade seperti OSN Matematika se-Kabupaten mendapat Harapan 1, Juara Umum III kelas VII SMP, Juara Umum II kelas VIII SMP, Peserta Lomba GLM (Gema Lomba Matematika) UNDIKSA se-Provinsi Bali tahun 2009 dan 2010, Lomba PMR se-Kabupaten sebagai Juara II peregu, Lomba LT III Pramuka se-Kabupaten sebagai Juara III peregu, dan Peserta Lomba Siswa-Siswi Teladan SMP se-Kabupaten.
Prestasinya yang begitu gemilang tidak membuat remaja ini sombong ataupun besar kepala. Selain itu Gita jug aaktif dalam organisasi sekolah seperti, Osis, PMR, majalah sekolah dan Pramuka. Itulah yang membuat gadis berkacamata ini diterima di SMA NEGERI BALI MANDARA (SAMPOERNA ACADEMY). Menurutnya, bisa bersekolah internasional sangat menjadi kebanggaan. Dengan begitu ia bisa meringankan beban orang tua dan mengejar mimpi-mimpinya yang hamper tertunda.
Dia begitu antusias akan hal – hal yang membuatnya tertarik untuk mencobanya dan memberikan manfaaat serta pengalaman baru baginya. Dia berkata “Walaupun itu tidak dapat kita lakukan, cobalah untuk berkata bisa karena itu merupakan hal yang memberikan pengalaman baru dan Semangat untuk kita”. Kehidupannya memanglah sangat sederhana, namun di dalamnya mengandung banyak makna. Dalam kehidupannya banyak sekali cobaan yang di hadapi baik suka maupun duka. Ia tidak pernah sekalipun mengeluh karena orang tuanya selalu mendukungnya. Dia memiliki motto “Tetaplah Semangat, Rajinlah Belajar, Raih Mimpi Masa Depan, dan Selalu berdoa walau dengan Ekonomi yang pas – pasan” dari motto itulah Dia dapat memotivasi dirinya dan meneruskan untuk meraih mimpi -  mimpi masa depan. Keinginannya yang sekarang hanyalah menjadi anak yang berguna bagi kedua Orang Tua, serta dapat mewujudkan cita – cita menjadi seorang Dosen Matematika. Tidak lupa dia mengucapkan banyak terimakasih kepada donatur yang bersedia memberikan beasiswa. Dengan semangat yang tinggi dia akan berusaha sekuat tenaga mewujudka nimpiannya.