Jumat, 16 Agustus 2013

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE - 68

HAPPY INDEPENDENCE DAY 17TH AUGUST 1945 - 17TH AUGUST 2013.
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN RI 17 AGUSTUS 1945 - 17 AGUSTUS 1945 

Selasa, 30 Juli 2013

menggapai cita-cita bersama SMA Negeri Bali MAndara

Komang Yogi Trisna Permana itulah nama saya. Saya sering dipanggil Yogi. Saya lahir 15 tahun lalu tepatnya tanggal 8 Januari di Singaraja. Ayah saya bernama I Made Sumadia. Beliau seorang sopir. Ibu saya Nyoman Kariastini buruh yang bekerja di usaha bibi saya. Saya mempunyai 4 saudara kandung: 2 kakak laki-laki dan dua adik perempuan.
Kehidupan keluarga kami sangat sederhana. Ibu dan bapak saya pernah tidak makan satu hari dan kami anak-anaknya hanya makan nasi dengan lauk sambel. Setahun lalu hanya ibu saya yang bekerja dan bapak saya pengangguran.
Sejak kelas 2 Smp saya mengikuti ibu saya bekerja bersama adik saya di rumah bibi saya. Kami memang harus bekerja karena upah bapak dan ibu saya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tiap hari saya dan adik bekerja sepulang sekolah di rumah bibi yang dekat dengan rumah saya. Usaha bibi saya kue sederhana seperti wajik, lapis, taluh penyu, apem dsbnya, Tugas saya hanya membungkus kue-kue itu. Dengan upah 10 ribu sehari sudah cukup bagi saya untuk saya tabung di bank swasta. Semua keperluan saya tidak membebani orang tua. Bila orang tua saya membutuhkan uang, saya dan adik meminjamkannya
Pelajaran yang saya sukai adalah matematika dan hobby saya sepak bola. Saya memiliki tim “ Putra MAritim PS” sebuah klub sepakbola yang dibentuk oleh masyrakat sekitar. Walaupun kami belum pernah menang kami selalu bersemangat berlatih.
Setelah mendaftar dan di terima di SMA Bali Mandara saya bertekad membanggakan kedua orangtua saya. Saya ingin menggapai cita-cita saya di SMA bali MAndara.

Senin, 22 Juli 2013

Pengunduran yang membawa keberuntungan

Nama saya Ni Luh Eva Ardonisi. Saya lahir 14 tahun yang lalu di sebuah rumah sakit yaitu rumah sakit umum daerah BAngli. Asal asli saya dari Karangasem Kubu. Tapi sejak saya berumur enam bulan keluarga saya mendapatkan masalah besar. Ayah saya I Gede Ardana menglami kecelakaan dan meninggal di tempat. Ketika itu saya yang masih berumur enam bulanmasih bayi mungil yang tidak tahu apa-apa. Ibu saya Ni Made Setiasih menghidupi saya seorang diri dengan seorang putrid.
Ada saat di mana saya mulai mengetahui ayah saya sudah meninggal. Saat umur 5 tahun saat saya sudah menginjakan kaki di sekolah dasar baru kelas satu SD. Seorang nenek yang saya kenal menceritakan tentang keadaan keluarga saya. Ia mengatakan kalau ayah saya yang sekarang bukanlah ayah kandung saya melainkan salah seorang adik dari ayah kandung saya.   Saya pun menanyakan kepada kedua orang tua saya dan mereka mengatakan bahwa merekalah orang tua kandung saya. Namun akhirnya saya tahu kalau beliau bukan ayah kandung saya dari kakek.
Saya sejak SD tinggal bersama dengan kakek nenek saya di Bangli dan sudah terbiasa hidup tanpa ibu. Biasanya setiap upacara keagamaan atau liburan sekolah ibu saya selalu menjemput saya untuk pulang ke karangasem. Ketika saya akan menyelesaikan SMP saya melanjutkan di SMP 1 Kubu pindah dari SMP N 1 Tembuku. Saya mendapat informasi mengenai SMA Bali Mandara dari guru saya yang memberikan beasiswa kepada siswa. Mendengar informasi tersebut saya merasa sangat tertarik. Tetapi saya mengalami masalah ketika mendownload formulir pendaftaran. Berkali-kali  ke warnet terdekat karena warnet terdekat dari rumah saya tutup.
Empat hari sebelum penutupan, saya baru bisa mengisi formulir. Dengan dibantu oleh orang tua dan guru-guru saya kira semuanya akan tepat waktu. Ternyata tidak. Dari pihak sekolah ternyata mengalami kendala dan tidak dapat mengantarkan formulir. Dengan kecewa saya membatalkan pendaftaran. Namun saya mendengar bahwa pendaftaran masih diperpanjang. Saya ingin mendaftar ulang lagi namun gagal lagi karena saya tidak ada yang mengantar. Mungkin Tuhan memberikan jalan yang terbaik dan tanpa saya duga pendaftaran diperpanjang lagi untuk ketigakalinya. Dan sehari sebelum penutupan sayapun datang ke SMA Bali MAndara untuk pertama kalinya.
Setelah pengumpulan formulir, saya mengikuti tahap home visit. TAhap home visit saya lulus dan mengikuti Boot Camp. Selama tiga hari saya mengikuti Boot Camp, di luar dugaan saya lulus. Tanpa pikir panjang saya menelepon ibu saya yang tinggal jauh dari saya. Saya ingin sekali sekolah di SMA Bali MAndara karena kondisi keluarga saya.

Rasa bangga dan syukur terlihat di wajah ibu saya begitupun sang paman yang sudah saya anggap sebagai ayah. Dan untuk ibu saya tercinta, terimakasih atas semangat dan doa ibu yang mebuat saya berjuang keras untuk bisa bersekolah di SMA Bali MAndara

Minggu, 21 Juli 2013

Bangkit dan bangkit

Nama saya I Made Agus Herma Saputra, saya lahir pada tanggal 12 Desember 1997. Saya anak kedua dari pasangan I ketut Suirka dan Ni Made Puspita sari. Saya tinggal di banjar dinas Bantas Bale Agung, Desa Bantas, kecamatan Selemadeg timur, Kabupaten Tabanan.
Pada saat SD saya sekolah di SD 1 Bantas, saya memiliki prestasi yang banyak dan terus mendapat ranking 1 di kelas. Namun pada saat kelas 5 Sd ayah saya pergi selama-lamanya meninggalkan saya karena sakit keras. Setelah kejadian itu saya mulai tegar, mandiri dan berjuang keras untuk membanggakan keluarga dengan belajar giat.
Pada saat SMP kelas VIII ibu saya menikah dan saya diangkat sebagai anak oleh paman saya. Itu membuat saya sedih dan prestasi saya SMP menurun. Tapi dengan itu saya mencoba bangkit dan bangkit. Setelah kakak saya menikah, saya tinggal dengan nenek saya yang saki-sakitan di rumah saya yang sederhana. Saya berubah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Sebelumnya saya bingung bersekolah di mana. Dan dari dulu saya ingin bersekolah di SMA 1 Tabanan, tapi biaya terlalu tinggi dan akan membebani keluarga saya. Guru SMP saya menyarankan saya bersekolah di SMA N Bali Mandara karena gratis dan proses belajar mengajar bagus. Kemudian saya mendaftar di sini dan syukurlah saya diterima. Saya ingin membanggakan keluarga, diri sendiri dan sekolah  

Rabu, 17 Juli 2013

Keyakinan, Langkah Awal Merajut Mimpi dan Cita-Cita



Terasa hiruk pikuk di lingkungan SMA Negeri Bali Mandara menjadi kian ramai dengan kehadiran 75 peserta didik baru tahun ajaran 2013/2014. Mereka datang dari berbagai kabupaten se-Provinsi Bali mulai dari Kabupaten Buleleng, Karangasem, Bangli, Badung, Klungkung, Jembrana, Gianyar, Negara, sampai Denpasar. Dengan berbagai latar belakang berbedaserta keseharian yang berbeda pula, mereka datang dengan tujuan yang sama yaitu menempa pendidikan untuk menjadi pribadi yang sukses dan lebih sejahtera dari sebelumnya.
Seperti halnya yang disampaikan oleh salah satu siswi baru SMA Negeri Bali Mandara, Ni Luh Kastiwi. “Saya sangat bersyukur bisa sekolah di sini, selain untuk meringankan beban orang tua, saya juga berharap bisa menjadi orang yang sukses setelah tamat di sini dan mengubah taraf hidup keluarga.” kata gadis yang berasal dari Kabupaten Buleleng ini. Gadis yang biasa disapa Tiwi ini, memiliki keseharian yang hampir sama dengan anak-anak perempuan seusianya. Sehari-hari ia bekerja membantu ibunya di rumah sepulang sekolah. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh harian. Penghasilan ekonomi mereka belum bias mencukupi seluruh kebutuhan keluarga termasuk pendidikan Tiwi.
“Dari SD sampai SMP, biaya pendidikan sekolah saya ditanggung oleh yayasan Anak Indonesia. Jadi orang tua saya tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah saya. Karena sekarang saya sudah diterima di sekolah ini, beasiswa dari yayasan itu pun dilepas.” tambahnya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di SMAN Bali Mandara, ia merasa sangat beruntung karena kini bisa menjadi salah satu anggota dari keluarga besar SMAN Bali Mandara. Menurutnya sekolah ini adalah sekolah asrama yang sangat polpuler karena berbagai prestasi dari siswanya.
“Bangga rasanya bisa sekolah di sini karena sebelum ke sini saja saya sudah mendapat banyak info-info tentang keunggulan serta prestasi sekolah ini. Awalnya saya tahu tentang SMA Negeri Bali Mandara ini dari salah satu kakak kelas saya Suwijati yang juga bersekolah di sini. Dari sana saya mulai lebih banyak mencari informasi untuk bisa sekolah di sini.” jelasnya. Dengan ambisi dan keyakinannya, Tiwi berharap bisa menempa pendidikan dan mengumpulkan ilmu sebanyak mungkin untuk jadi siswa yang berprestasi seperti siswa lainnya di sekolah ini terutama dibidang sastra dan bahasa.
Siswi yang bercita-cita sebagai guide ini juga sangat suka berbicara. “Setelah selesai bersekolah dan menempuh pendidikan, saya bercita-cita untuk menjadi seorang guide karena saya juga lumayan suka bahasa inggris. Untuk memantapkan kemampuan bahasa inggris, saya juga sempat mengikuti kegiatan les di luar sekolah dan tentunya dibiayayai oleh yayasan Anak Indonesia.” jawab gadis berambut hitam pekat ini. Di SMAN Bali Mandara ini nantinya Tiwi akan menuntut ilmu dan mulai merajut mimpinya untuk menjadi pribadi yang sukses ke depannya. Walaupun harus jauh dari orang tua, ia yakin bahwa ini adalah jalan terbaik untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya.(day)

Buka MOPDB SMAN Bali Mandara, Kabiddikmen Sematkan Nametag Peserta


SMABARA, EXPRESS -Setelah melaksanakan upacara pengukuhan siswa secara niskala, yaitu upacara Upanayana satu hari sebelumnya. Peserta didik baru SMA Negeri Bali Mandara yang berlatar belakang keluarga yang lemah secara ekonomi, siapuntuk mengikuti proses pembekalan serta pengenalan kehidupan sekolah secara khusus dalam kegiatanMOPDB. Kegiatan masa orientasi peserta didik baru (MOPDB) ini dibuka secara resmi oleh Kabiddikmen Provinsi Bali,yaitu I Wayan Sarinah yang pada saat itu diundangsebagai pembina upacara.
Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan kepada para peserta didik baru tentang apa yang harus selalu mereka ingat dalam menempatkan diri dikehidupan masyarakat. Tiga pokok dari sekian yang disampaikan Pak Wayan Sarinah adalah kedisiplinan, berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan mengerti bagaimana suatu hierarki tersebut.
Penyematan tanda peserta MOPDB pun dilayangkan kepada kedua perwakilan siswa baru yakni, Juniarta dan Suyartini Dewi dengan didampingi oleh I Nyoman Darta sebagai Kepala SMA Negeri Bali Mandara. Disaat yang bersamaan pula diikuti oleh masing-masing peserta didik baru lainnya. Tujuh puluh lima peserta didik baru yang telah berhasil lolos akan mengikuti kegiatan MOPDB ini selama satu minggu yang dihitung sejak hari ini, Senin 15 Juli 2013. “Semoga MOPDB berjalan lancar dan sukses. Dan peserta didik baru dapat memahami materi yang disampaikan serta dapat diterapkan dikemudian hari,” papar Ketua Panitia MOPDB, Eka Sumarsana yang ditemui seusai upacara.(YAN)

SANJAYA: “DAPAT MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA DAN GURUKU ADALAH SUATU HAL YANG AKU BANGGAKAN”


Kini keluarga besar SMA Negeri Bali Mandara bertambah 75 orang lagi. Seorang siswa yang berpengalaman dalam bidang ilmu pengetahuan sosial ini turut meramaikan hari-hari di Smanbara tercinta. Siswa yang biasa disapa Sanjaya oleh teman-temannya ini, telah mendapat tempat di hati siswa-siswi Smanbara. Belum tepat seminggu, siswa berkulit putih ini sudah bisa berinteraksi dengan teman-teman barunya. Susah dan senang, suka dan duka, pahit dan manis, juga akan menghiasi hari-harinya di sini. Berbagai karakter serta pengalaman baru akan ia dapatkan di sekolah berasrama ini. Sebelum sampai di sini, ia telah melewati perjalanan hidup yang panjang.
Selama tiga tahun ia menimba ilmu di SMP Negeri 2 Mengwi, Kabupaten Badung, ia terus mengasah kemampuannya dalam berbagai bidang mata pelajaran khususnya salah satu bidang yang paling ia sukai, yaitu mata pelajaran IPS. Ia telah mengikuti ajang lomba bergengsi, yaitu Olimpiade Sains Nasional yang ia ikuti selama masa SMP. Merupakan suatu kebanggaan baginya bisa mengikuti olimpiade di bidang IPS yang sudah menjadi salah satu keahlian dalam dirinya. Hari-hari penuh tantangan dan resiko sudah biasa dijalaninya. Tetes demi tetes keringat bercucuran, bukan semata-mata tuntutan pelajaran namun juga untuk membantu orag tuanya bekerja. Hal itu ia lakukan untuk membanggakan kedua orang tuanya yang menjaga dan merawatnya sejak kecil. Satu pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan adalah memperoleh medali perunggu OSN yang diraihnya saat duduk dibangku SMP.
Laki-laki yang bernama lengkap Kadek Sanjaya ini, menamatkan pendidikannya di SMP Negeri 3 Mengwi. Setelah tamat SMP, Sanjaya pun mulai melamar di beberapa sekolah yang ditargetkannya. Bukan hal yang mudah untuk mencari sebuah sekolah yang akan membantunya untuk meraih impian-impiannya. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan, ia mulai mendatangi satu demi satu sekolah yang memerlukan peserta didik baru.
Sebelumnya, laki-laki kelahiran Denpasar, 7 september 1997 ini sempat bercita-cita untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil di kantor bea cukai atau pajak. Cita-cita itu terpikirkan sejak duduk di bangku SMP. Menggunakan pakaian dinas, membawa tas kantor, antar-jemput mobil dinas, hal itulah yang selalu terbayang dalam benaknya. Ia akan merajut impiannya di SMA Negeri Bali Mandara ini. Keberhasilannya sekarang masuk di sekolah yang didamba-dambakannya bukan tanpa dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Orang tuanya, I Ketut Suana dan Gusti Ayu Putu Sukerni, turut menjadi sumber motivasinya. Seperti prinsipnya, “Dapat membahagiakan orang tua dan guru adalah suatu hal yang aku banggakan”. Tak akan ada rintangan sekecil apapun yang bisa menghambat langkahnya menuju kesuksesan.
Di usianya yang genap 15 ini, ia telah menginjakkan kaki di SMA Negeri Bali Mandara. Merupakan suatu kebanggaan bisa berada di tengah-tengah keluarga besar Smanbara. Semua itu berkat kerja kerasnya selama ini. Ia berharap itu bukan sekedar kebanggaan untuk dirinya, melainkan untuk orang tua tercinta. Maka dari itu, ia tak pernah mengeluh akan hambatan-hambatan yang ada di depannya. Hidup tak selalu diawali dengan jalan yang mudah. Meski itu jalan yang berliku sekali pun, ia tak akan pernah mundur dari medan perang. Ini baru sebagian sukses yang diraihnya. Masih ada jalan panjang yang terbentang di depan. Semua belum berakhir, ini baru langkah awal, awal untuk mencapai kesuksesan, kesuksesan di masa depan.(and)