Kamis, 15 November 2012

Go Ari Kempo


Dalam rangka memperingati Porseni Kabupaten (Porkab), Pemerintah Kabupaten Buleleng menggelar kejuaraan kempo se-kabupaten buleleng yang diikuti seluruh kecamatan. Memang bukan kali pertama aku mengikuti kejuaraan kempo, biasanya aku mewakili kabupaten buleleng ketika kejuaraan tingkat Provinsi. Kalau pun ada kejuaraan Porseni biasanya aku mewakili Kecamatan Busungbiu. Sekarang aku bersekolah di SMA Negeri Bali Mandara(Sampoerna Academy) yang bertempat di Kecamatan Kubutambahan jadi kebanggaan yang begitu besar ku rasakan ketika, diberi kepercayaan penuh untuk mewakili kecamaatan kubutambahan dalam ajang kejuaraan porseni 2012 ini. Sebenarnya sebelum  mengetahui kejuaraan ini, sudah ku bina beberapa teman, siswa Bali Mandara untuk berlatih Kempo, jadi tidak sulit bagiku untuk mencari atlet.
 Dua minggu sebelum kejuaraan kami berlatih keras, untuk menyambut kejuaraan tersebut. Setiap sore aku melatih teman-teman, sambil melatih diriku sendiri. Ketika melatih, alat-alat latihanlah yang menjadi kendala kami, karena memang fasilitas latihan yang belum memadai. Aku berusaha melatih dengan caraku  yaitu berlatih dengan bayangan yaitu bertarung dengan imajinasi.  Sampai suatu saat terlintas dalam benakku untuk meminjam alat latihan kepada pengurus Kempo Kabupaten Buleleng. Beruntung aku dikenal sebagai atlet Buleleng ,jadi tidak segan mereka memfasilitasiku 2 alat latihan. Alat inilah yang ku gunakan untuk melatih teman-teman. Tapi itu tidak cukup, jadi terpaksa kami menggunakannya secara bergantian, meskipun memang tidak efficient. Selain melatih, sebenarnya aku mempunyai jadwal latihan bersama tim Kempo Buleleng setiap minggu, karena itu memeng kewajiban setiap atlet. Tapi aku tetap semagat melatih teman-teman. Kejuaraan sudah dekat, kami mulai menimbang berat badan, dan beberapa kelas telah terpenuhi. Aku turun di kelas 60 kg putra dan juga ikut  dalam kategori seni berpasangan campuran.
Sepertinya kejuaraan Porseni Kempo kali ini berbeda dari yang terdahulu. Sekarang hampir setiap Kecamatan merekrut atlet luar Kabupaten sebagai wakil kecamatan. Itu bukan merupakan halangan bagiku, karena sesungguhnya kami mengikuti kejuaraan, untuk mencari pengalaman. Satu hari sebelum kejuaraan, berbondong kami ke tempat kejuaraan untuk mengikuti pembukaan. Masalah ku temukan kembali, kebanyakan atlet Kubutambahan yang belum mempunyai seragam Kempo, wajar karena beberapa atlet yang ku latih memang baru. Jadi itu, tanggung jawab ku sebagai pelatih untuk memfasilitasi mereka seragam. Kebetulan, selama menjadi atlet Buleleng, aku mempunyai banyak teman yang memang sering ikut serta dalam berbagai kompetisi Kempo jadi pastinya mereka mempunyai seragam lebih. Akupun berusaha meminjam seragam itu kepada mereka, 14 seragam berhasil ku pinjam untuk atlet-atlet baru Kubutambahan, satu hari sebelum kejuaraan.
Aku mempersiapkan stamina altlet agar tetap terjaga, kejuaraan tiba hampir setengah hari kami mengikuti kejuaraan tersebut.  Ternyata 3 atlet kubutambahan yang ku latih termasuk aku lolos ke babak final sedangkan 3 orang lain telah terhenti pada posisi ketiga. Begitu juga kategori seni yang ku ikuti, sangat tidak etis! guru yang mengajarkan ku kempo, ikut serta dalam lomba seni ini. Aku tetap semangat dan hasilnya aku terpaut 2 nilai dari guruku. Aku harus iklas berada diposisi kedua.
Saat Final, 2 orang temanku telah berhasil memenangkan pertandingan dan yang lain telah terhenti pada posisi kedua. Sekarang saatnya aku, ternyata lawanku adalah atlet denpasar yang memang hebat dalam hal bertanding. Aku tidak gentar dan beberapa menit kemudian, kami berdua bertanding dengan sangat gigih dan akhirnya setelah perpanjangan waktu, aku pun berhasil ditaklukan. Mungkin belum saatnya aku memenangkan pertandingan ini. Aku harap melalui pertandingan ini, aku bisa mengasah skill-skill, bisa mangambil nilai dan makna. Bisa kujadikan panutan kedepannya .Akhirnya kami pulang dengan membawa 2 emas, 3 perak, dan 3 perunggu. Kami pulang dengan rasa sangat puas dan bahagia. Satu hari sesudah kejuaraan, kami merenung sebentar dan berharap kejuaraan ini bisa memberikan kami manfaat yang berarti.

“Tetap Semangat, Rajinlah Belajar, Raih Mimpi Masa Depan, dan Selalu ber-Doa Walau dengan Ekonomi yang Pas – pasan”



            Gadis yang bernama Ayu Putu Gita Cahyani, Lahir di Dauhwaru, 8 Agustus 1997 Kabupaten Jembrana – Bali. Sekarang berusia 15 tahun, dan memiliki Adik Kembar yang bernama Kadek Darma Yuda dan Komang Ari Saputra. Anak Pertama dari pasangan I Ketut Cahyadi dan Ni Made Parniini di kenal sebagai gadis yang Humoris, dan senang membantu Orang Tua serta teman – temannya ini, dia kerap di sapa Gita. Sehari-hari dia kerap membantu kedua orang tuanya membuat jajan Bali, menjual Dupa, membuat banten yang nantinya akan di jual kepasar. Walaupun sibuk bekerja, dia tidak lupa meluangkan waktunya untuk belajar.
Dia tergolong anak yang cukup pintar. Ketika duduk di bangku smp dia banyak megikuti kegiatan olimpiade seperti OSN Matematika se-Kabupaten mendapat Harapan 1, Juara Umum III kelas VII SMP, Juara Umum II kelas VIII SMP, Peserta Lomba GLM (Gema Lomba Matematika) UNDIKSA se-Provinsi Bali tahun 2009 dan 2010, Lomba PMR se-Kabupaten sebagai Juara II peregu, Lomba LT III Pramuka se-Kabupaten sebagai Juara III peregu, dan Peserta Lomba Siswa-Siswi Teladan SMP se-Kabupaten.
Prestasinya yang begitu gemilang tidak membuat remaja ini sombong ataupun besar kepala. Selain itu Gita jug aaktif dalam organisasi sekolah seperti, Osis, PMR, majalah sekolah dan Pramuka. Itulah yang membuat gadis berkacamata ini diterima di SMA NEGERI BALI MANDARA (SAMPOERNA ACADEMY). Menurutnya, bisa bersekolah internasional sangat menjadi kebanggaan. Dengan begitu ia bisa meringankan beban orang tua dan mengejar mimpi-mimpinya yang hamper tertunda.
Dia begitu antusias akan hal – hal yang membuatnya tertarik untuk mencobanya dan memberikan manfaaat serta pengalaman baru baginya. Dia berkata “Walaupun itu tidak dapat kita lakukan, cobalah untuk berkata bisa karena itu merupakan hal yang memberikan pengalaman baru dan Semangat untuk kita”. Kehidupannya memanglah sangat sederhana, namun di dalamnya mengandung banyak makna. Dalam kehidupannya banyak sekali cobaan yang di hadapi baik suka maupun duka. Ia tidak pernah sekalipun mengeluh karena orang tuanya selalu mendukungnya. Dia memiliki motto “Tetaplah Semangat, Rajinlah Belajar, Raih Mimpi Masa Depan, dan Selalu berdoa walau dengan Ekonomi yang pas – pasan” dari motto itulah Dia dapat memotivasi dirinya dan meneruskan untuk meraih mimpi -  mimpi masa depan. Keinginannya yang sekarang hanyalah menjadi anak yang berguna bagi kedua Orang Tua, serta dapat mewujudkan cita – cita menjadi seorang Dosen Matematika. Tidak lupa dia mengucapkan banyak terimakasih kepada donatur yang bersedia memberikan beasiswa. Dengan semangat yang tinggi dia akan berusaha sekuat tenaga mewujudka nimpiannya.

Selasa, 13 November 2012

Juara 1 Olimpiade fisika Nucleon 2012 Tingkat SMP & SMA Sejawa-Bali

Senin, 12 November 2012

Gema Nada Bali Mandara

juara 1 lomba paduan suara RRI singaraja dengan dirigen terbaik dalam rangka hari Pahlawan.


Harmonisasi dalam melantunkan beberapa buah nada yang berbeda memang sangat bagus terdengar ditelinga. Hal itulah yang dirasakan oleh tim Choir (PaduanSuara) SMA Negeri Bali Mandara yang sedang berlatih di areal Sekolah. Mereka berlatih untuk persiapan lomba paduan suara yang bergengsi antar SMA se-Kabupaten Buleleng. Dengan tekun, sabar dan kerja keras, para siswa berlatih memadukan suara. Hal ini membuat latihan memancarkan aura patriotik yang tidak sedikit. Latihan mereka tidak kenal pagi, siang sore ataupun malam. Hal  ini semata-mata ditujukan untuk sekolah tercinta. Apalagi ditambah dengan semangat kepahlawanan yang di kobarkan terkait dengan tema lomba.
Lomba kali ini diadakan oleh pihak RRI, Monumen Perjuangan Bangsal dan beberapa pihak yang terkait dalam memperingati Hari Pahlawan dan Hari-hari bersejarah lainnya. Kesuksesanpun akhirnya bukan hanya sebatas mimpi. Peringkat Pertama dan predikat sebagai “Dirigen” terbaik berhasil disabet oleh Tim Choir sekolah ini. Siapa yang menyangka? SMA 4, SMK N 1 Singaraja, dan SMA lain yang notabene kuat dengan pelatih-pelatih terbaik dan ternama yang mereka miliki akhirnya mengakui kemenangan kita.       
Lebih tidak disangka lagi, Pembina tim Choir sekolah ini bukanlah seorang Guru Seni atau ahli dalam bidang tarik suara. Pembina tim ini adalah seorang Tenaga Medis (Nurse) dan seorang guru Bahasa Inggris di Sekolah ini. Betapa luar biasanya sekolah ini. Tidak hanya siswa, guru dan staff yang dimilikipun memiliki multi talenta. Sebenarnya sekolah ini memiliki seorang out resource sebagai pelatih tetap, namun karena sesuatu dan lain hal, sang pelatih resmi tidak dapat melatih pada event ini. Tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat para punggawa untuk tetap bersemangat dalam berlatih memadukan nada, kreasi, dan ekspresi, sehingga keberhasilan gemilang dapat tercapai.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari Anugerah Tuhan yang Maha Esa dan doa restu dari warga sekolah.  Piala bergilir, PialaPeringkat pertama, Piala Dirigen terbaik dan penghargaan yang terpampang di sekolah ini menjadi saksi kesuksesan Tim Choir SMA ini dalam berprestasi dibidang tarik suara untuk pertama kalinya. Dengan moto “I Can Because I Believe I Can” turut mengahantarkan pula Tim Choir GEMA NADA MANDARA untuk siap berpartisipasi dalam event yang kelak akan diadakan kembali.

Red.Ben_Prince

Karya Tulis, Langkah Awal Membentuk Future Leader


Senyum cerah dan ceria mengiringi langkah Retno Fitriandari menuju podium ruang seminar Undiksha petang itu (21/09). Sekitar pukul 20.00 Wita, karya tulisnya yang disusun bersama Ni Luh Komang Surminiari yang berjudul “Efisiensi Briket Biodegradable dari Limbah Organik Sebagai Energi Alternatif Menuju SMAN Bali Mandara GREAT (green, share, care, cl

ean and healthy)” berhasil keluar sebagai juara harapan I dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undikha 2012. Lomba tersebut merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Fisika Undiksha dalam memperingati hari jadi mereka yang ke-48. Tak hanya lomba karya tulis ilmiah, dalam event ini juga diselenggarakan olimpiade fisika dengan peserta siswa SMA seluruh Bali. Beribu usaha serta kerja keras telah ditempuh oleh Retno dan Marik dalam meraih hasil tersebut. Dimulai dari pembuatan karya tulis yang membuat mereka harus mengorbankan waktu belajar mereka, hingga perasan was-was ketika menunggu pengumuman tahap seleksi karya tulis. Hari berganti hari, penantian mereka pun tak berujung sia-sia. Seminggu sebelum hari-H, I Wayan Madiya selaku guru pembimbing mereka, mengabarkan bahwa Retno dan Marik berhasil lolos menjadi finalis 8 besar Lomba Karya Ilmiah Sains Undiksha 2012 bersama 2 kelompok lainnya dari SMAN Bli Mandara. Berbagai persiapan presentasi mulai dari slide persentasi dan poster segera disiapkan. Jauh hari sebelum lomba dilaksanakan, mereka telah berlatih presentasi berulang-ulang. Tak hanya itu, mereka juga mempersiakan briket buatan mereka yang akan dibawa sebagai produk karya ilmiah mereka pada saat presentasi nantinya.
“Berangkat naik bemo, pulang bawa piala (dan bemo)” itulah motto yang dibawakan oleh Retno dan Marik serta enam teman mereka lainnya beberapa menit sebelum keberangkatannya menuju Universitas Pendidikan Ganesha dengan menggunakan bemo. Suara riuh kendaraan kota Singaraja mengiringi perjalanan Retno dan Marik hingga mereka sampai di depan fakultas MIPA Undiksha. Gelisah dan gugup, itulah yang mereka rasakan sembari menunggu dimulainya acara presentasi oleh seluruh finalis. Tepat pukul 10.00 pagi, acara lomba karya tulis Sains Undiksa dibuka oleh panitia yang bertugas sebagai pemandu acara. Juri dalam lomba karya tulis tahun kali ini merupakan dosen yang berasal dari masing masing bidang sains dasar yaitu biologi, kimia dan fisika. Retno dan Marik mendapatkan urutan presentasi nomor tiga, yang mana nomor urut tersebut diambil secara acak. Presentasi mereka mulai dengan membawakan sebuah yel dengan penuh semangat yang berbunyi “Think global, act local, dimulai dari hal yang kecil, dengan briket sebagai energy alternatif, wujud generasi muda peduli lingkungan”. Untungnya, dua gadis yang berasal dari House Hornbill ini berhasil membawakan persentasi dengan lancar. Kemudian presentasi yang berlangsung selama 10 menit tersebut ditutup dengan persembahan sebuah pantun berbahasa Bali yang semakin mencerahkan susana. Pertanyaan yang diberikan oleh tim juri pun kebanyakan telah mereka dapatkan dari para guru dan staff SMAN Bali Mandara pada sesi latihan sebelumnya di sekolah. Meski ada pertanyaan yang cukup menggelitik, namun tim juri lebih banyak memberika saran serta masukan terhadap karya tulis mereka.
Walau belum berhasil menjadi juara tiga besar, namun mereka cukup senang dan bangga dengan apa yang telah mereka raih. Bagaimana tidak, ini merupakan penghargaan pertama yang diterima Marik khususnya dalam bidang karya tulis. Sedangkan Retno pada seminggu sebelum lomba ini telah berhasil meraih juara II dalam lomba karya tulis Bali Mandara. Semua itu akan mereka jadikan sebagai pelajaran agar dapat lebih baik lagi dalam lomba berikutnya yang akan mereka ikuti. Lebih lanjut, penghargaan ini merupakan langkah awal mereka untuk menjadi young scientist Indonesia sehingga dapat berkontribusi terhadap tanah air Indonesia. Hal ini tentu selaras dengan visi sekolah mereka, SMAN Bali Mandara yaitu ”creating future leader with strong moral values, life skills and an awareness of environmental and global issues”.

SESUATU DI BALIK KEJADIAN HARI ITU


Hari tu menjadi hari yang menegangkan sekaligus mengesankan bagi Ni Luh Putu Lilis Sinta Setiawati, Ni Luh Dewi Mahayani, dan Ni Putu Ayu Linda Permitasari. Kelompok ketiga siswi kelas XI SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy) itu merupakan salah satu peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan pada tanggal 21 September 2012. LKTI tingkat SMA, SMK,
MA seregional (Bali, Jawa, Nusa Tenggara) tersebut berlangsung di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali.
Setelah menjalani proses pembinaan selama beberapa hari bersama I Wayan Madiya, M.Pd., pembina ekstrakurikuler KIR SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy), naskah karya tulis yang berjudul “Pembangkit Listrik Tenaga Hidrogen dengan Metode Hidro-elektrolisis Untuk Mengembangkan Listrik di Kecamatan Kubutambahan” lolos dalam peringkat 8 besar. Selain naskah, penilaian juga berpedoman pada presentasi dengan akumulasi nilai 60% naskah dan 40% presentasi. Hasil karya ketiga siswi yang akrab dipanggil Lilis, Dewi, dan Linda pun akhirnya keluar sebagai juara ke-3 mengalahkan peserta lainnya dalam ajang itu.
Masing-masing peserta memiliki refleksi dan evaluasi tersendiri dari perlombaan ini. Lilis mengatakan, “kekompakan dalam tim perlu ditingkatkan lagi untuk keberhasilan di lomba-lomba berikutnya”. Sedangkan menurut Dewi, “Dalam mengerjakan sesuatu, semangat harus tetap menggembu dan tidak boleh ada waktu untuk mengeluh”.
Hasil yang didapatkan oleh Lilis, Dewi, dan Linda merupakan hasil kerja keras berbagai pihak. Dukungan serta doa orang tua serta warga sekolah juga tidak lepas sebagai faktor penyemangat mereka. “Hal yang tidak kalah penting adalah dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan Putera Sampoerna Foundation sebagai pihak-pihak yang telah memberikan kesempatan pada siswa-siswi SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy) untuk mengenyam pendidikan dan meraih segudang prestasi”, tutur Linda. (LDL)

Minggu, 11 November 2012

Agung Ray, Juara LCC bahasa Indonesia

Bu Guru Ucik, Agung Ray, Pak Mudita
Tangis bahagia tak bisa dibendung seorang siswa SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy). Siswa beruntung itu adalah I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari. Ia yang mewakili sekolah seorang diri untuk mengikuti LCC Bahasa Indonesia antar siswa
SMA/SMK/MA se-Bali berhasil membawa sebuah piala bergilir dari Pusat Bahasa Denpasar serta piala tetap sebagai juara pertama atas kompetisi itu.
Hari itu Selasa, 23 Oktober 2012 siswa yang lebih akrab dipanggil Agung Ray ini sudah bersiap di depan asrama. Dengan motor matic, ia dan guru pembimbingnya, I Komang Mudita, berangkat menuju tempat perlombaan dengan penuh harap. Dengan satu kalimat penyemangat, berangkat naik motor pulang bawa piala, mereka menghadapi hari itu dengan senyum.
Bertempat di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) penyisihan tahap I dimulai setelah Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) membuka acara secara resmi. Bekerja sama dengan Pusat Bahasa Denpasar, penyisihan dilakukan dengan tes UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia). Dalam penyisihan tahap I, Agung Ray harus menyisihkan 22 pesaing dari total peserta 52 orang untuk bisa melaju ke 30 besar.
Doa tak henti diucapkan ketika panitia membacakan nama 30 orang yang berhasil melaju ke tahap penyisihan II. Kebahagiaan terpancar dari wajah Agung Ray ketika namanya disebutkan pada urutan ke-8. Selang beberapa menit penyisihan tahap II dimulai untuk memperebutkan 8 posisi untuk melanjutkan ke tahap semifinal. Masih seperti penyisihan tahap I, penyisihan tahap II dilaksanakan dengan tes UKBI.
Setelah 40 menit berlalu, tes usai dan perasaan was-was kembali terlihat di wajah Agung Ray sembari menunggu pengumuman hasil tes penyisihan. Seorang panitia berdiri di depan semua orang yang hadir saat itu dan mengumumkan 8 orang finalis yang akan melanjutkan ke babak semifinal.
“Awalnya saya pikir saya bukan satu dari delapan orang itu, hingga urutan ke-7 nama saya belum disebut dan saya pikir peluang itu semakin kecil,” ungkapnya, “beruntungnya di urutan ke-8 nama saya disebut.” Ungkapan itu yang sempat diucapkan Agung Ray sebelum ia menghadapi lawan-lawannya di semifinal.
Semifinal dilaksanakan dalam dua ronde, Agung Ray berkesempatan untuk menghadapi lawannya di semifinal ronde 2. Dalam semifinal itu ia harus menghadapi tiga lawan yang tangguh dalam tiga ronde. Ronde pertama adalah soal amplop, dari 10 soal yang disediakan dalam satu amplop Agung Ray berhasil menjawab 8 soal dengan benar.
Setelah soal amplop, dilanjutkan dengan soal operan. Soal yang harus dijawab hanya 5 namun Agung Ray mampu menjawab 8 soal, 3 soal lainnya didapat dari operan lawannya. Dalam ronde terakhir Agung Ray harus beradu cepat dengan lawan-lawannya untuk menjawab 10 soal yang disediakan. Di akhir babak semifinal Agung Ray berhasil memimpin dengan skor lebih dari 1600, ia bersama satu pesaing lain dari SMK N 1 Denpasar melaju ke babak final untuk memperebutkan posisi pertama.
Di babak final ia bertemu dengan siswa dari SMA N 1 Denpasar, SMA LAB Undiksha, serta SMK N 1 Denpasar. Dalam babak final ini Agung Ray tidak hanya mengandalkan kemahiran dalam berbahasa Indonesia, ia juga menggunakan analisis peluang dalam mempertahan poinnya. Masih seperti semifinal, final juga dibagi menjadi 3 babak. Berdasarkan hasil di babak soal amplop dan soal operan, Agung Ray memimpin dengan perolehan poin 750. Dari hasil dua babak itu, Agung Ray menjalani babak final dengan analisis nilai dan menjawab soal dengan sangat hati-hati. Ia mempertahankan poinnya sementara lawan-lawannya mendapatkan pengurangan nilai di babak rebutan karena salah menjawab soal.
Pada akhirnya, juri membacakan pemenang yang dimulai dari juara ke-2. Dalam ketegangan itu Agung Ray memanjatkan doa tak henti-hentinya, ia berusaha menguatkan diri untuk menerima segala hasil perlombaan. Ketika namanya disebut sebagai juara pertama tak terelakkan lagi air mata mengalir dari kedua matanya.
“Saya benar-benar tidak menyangka, dengan persiapan intensif yang hanya 3 hari saya bisa membawa pulang piala bergilir itu.” jawabnya singkat dengan sedikit terbata-bata ketika ditanya tentang perasaannya setelah mendapat juara pertama.
Di akhir Agung Ray mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia yang telah memberikannya kesempatan untuk berprestasi, begitu pula kepada dua orang pembinanya, I Komang Mudita dan Komang Ayu Suciartini, atas bimbingan mereka. Persiapan selama 4 hari dimanfaatkan secara efektif oleh Agung Ray untuk mempelajari materi lomba dengan bimbingan kedua gurunya. Agung Ray menambahkan, ia tak mungkin bisa mendapat ketenangan ketika menjawab soal bila tidak ada doa dari semua warga SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy). Satu ungkapan terakhirnya bahwa apa yang ia dapatkan hari itu dipersembahkan untuk Ayahanda tercinta.