Selasa, 13 November 2012

Juara 1 Olimpiade fisika Nucleon 2012 Tingkat SMP & SMA Sejawa-Bali

Senin, 12 November 2012

Gema Nada Bali Mandara

juara 1 lomba paduan suara RRI singaraja dengan dirigen terbaik dalam rangka hari Pahlawan.


Harmonisasi dalam melantunkan beberapa buah nada yang berbeda memang sangat bagus terdengar ditelinga. Hal itulah yang dirasakan oleh tim Choir (PaduanSuara) SMA Negeri Bali Mandara yang sedang berlatih di areal Sekolah. Mereka berlatih untuk persiapan lomba paduan suara yang bergengsi antar SMA se-Kabupaten Buleleng. Dengan tekun, sabar dan kerja keras, para siswa berlatih memadukan suara. Hal ini membuat latihan memancarkan aura patriotik yang tidak sedikit. Latihan mereka tidak kenal pagi, siang sore ataupun malam. Hal  ini semata-mata ditujukan untuk sekolah tercinta. Apalagi ditambah dengan semangat kepahlawanan yang di kobarkan terkait dengan tema lomba.
Lomba kali ini diadakan oleh pihak RRI, Monumen Perjuangan Bangsal dan beberapa pihak yang terkait dalam memperingati Hari Pahlawan dan Hari-hari bersejarah lainnya. Kesuksesanpun akhirnya bukan hanya sebatas mimpi. Peringkat Pertama dan predikat sebagai “Dirigen” terbaik berhasil disabet oleh Tim Choir sekolah ini. Siapa yang menyangka? SMA 4, SMK N 1 Singaraja, dan SMA lain yang notabene kuat dengan pelatih-pelatih terbaik dan ternama yang mereka miliki akhirnya mengakui kemenangan kita.       
Lebih tidak disangka lagi, Pembina tim Choir sekolah ini bukanlah seorang Guru Seni atau ahli dalam bidang tarik suara. Pembina tim ini adalah seorang Tenaga Medis (Nurse) dan seorang guru Bahasa Inggris di Sekolah ini. Betapa luar biasanya sekolah ini. Tidak hanya siswa, guru dan staff yang dimilikipun memiliki multi talenta. Sebenarnya sekolah ini memiliki seorang out resource sebagai pelatih tetap, namun karena sesuatu dan lain hal, sang pelatih resmi tidak dapat melatih pada event ini. Tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat para punggawa untuk tetap bersemangat dalam berlatih memadukan nada, kreasi, dan ekspresi, sehingga keberhasilan gemilang dapat tercapai.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari Anugerah Tuhan yang Maha Esa dan doa restu dari warga sekolah.  Piala bergilir, PialaPeringkat pertama, Piala Dirigen terbaik dan penghargaan yang terpampang di sekolah ini menjadi saksi kesuksesan Tim Choir SMA ini dalam berprestasi dibidang tarik suara untuk pertama kalinya. Dengan moto “I Can Because I Believe I Can” turut mengahantarkan pula Tim Choir GEMA NADA MANDARA untuk siap berpartisipasi dalam event yang kelak akan diadakan kembali.

Red.Ben_Prince

Karya Tulis, Langkah Awal Membentuk Future Leader


Senyum cerah dan ceria mengiringi langkah Retno Fitriandari menuju podium ruang seminar Undiksha petang itu (21/09). Sekitar pukul 20.00 Wita, karya tulisnya yang disusun bersama Ni Luh Komang Surminiari yang berjudul “Efisiensi Briket Biodegradable dari Limbah Organik Sebagai Energi Alternatif Menuju SMAN Bali Mandara GREAT (green, share, care, cl

ean and healthy)” berhasil keluar sebagai juara harapan I dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undikha 2012. Lomba tersebut merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Fisika Undiksha dalam memperingati hari jadi mereka yang ke-48. Tak hanya lomba karya tulis ilmiah, dalam event ini juga diselenggarakan olimpiade fisika dengan peserta siswa SMA seluruh Bali. Beribu usaha serta kerja keras telah ditempuh oleh Retno dan Marik dalam meraih hasil tersebut. Dimulai dari pembuatan karya tulis yang membuat mereka harus mengorbankan waktu belajar mereka, hingga perasan was-was ketika menunggu pengumuman tahap seleksi karya tulis. Hari berganti hari, penantian mereka pun tak berujung sia-sia. Seminggu sebelum hari-H, I Wayan Madiya selaku guru pembimbing mereka, mengabarkan bahwa Retno dan Marik berhasil lolos menjadi finalis 8 besar Lomba Karya Ilmiah Sains Undiksha 2012 bersama 2 kelompok lainnya dari SMAN Bli Mandara. Berbagai persiapan presentasi mulai dari slide persentasi dan poster segera disiapkan. Jauh hari sebelum lomba dilaksanakan, mereka telah berlatih presentasi berulang-ulang. Tak hanya itu, mereka juga mempersiakan briket buatan mereka yang akan dibawa sebagai produk karya ilmiah mereka pada saat presentasi nantinya.
“Berangkat naik bemo, pulang bawa piala (dan bemo)” itulah motto yang dibawakan oleh Retno dan Marik serta enam teman mereka lainnya beberapa menit sebelum keberangkatannya menuju Universitas Pendidikan Ganesha dengan menggunakan bemo. Suara riuh kendaraan kota Singaraja mengiringi perjalanan Retno dan Marik hingga mereka sampai di depan fakultas MIPA Undiksha. Gelisah dan gugup, itulah yang mereka rasakan sembari menunggu dimulainya acara presentasi oleh seluruh finalis. Tepat pukul 10.00 pagi, acara lomba karya tulis Sains Undiksa dibuka oleh panitia yang bertugas sebagai pemandu acara. Juri dalam lomba karya tulis tahun kali ini merupakan dosen yang berasal dari masing masing bidang sains dasar yaitu biologi, kimia dan fisika. Retno dan Marik mendapatkan urutan presentasi nomor tiga, yang mana nomor urut tersebut diambil secara acak. Presentasi mereka mulai dengan membawakan sebuah yel dengan penuh semangat yang berbunyi “Think global, act local, dimulai dari hal yang kecil, dengan briket sebagai energy alternatif, wujud generasi muda peduli lingkungan”. Untungnya, dua gadis yang berasal dari House Hornbill ini berhasil membawakan persentasi dengan lancar. Kemudian presentasi yang berlangsung selama 10 menit tersebut ditutup dengan persembahan sebuah pantun berbahasa Bali yang semakin mencerahkan susana. Pertanyaan yang diberikan oleh tim juri pun kebanyakan telah mereka dapatkan dari para guru dan staff SMAN Bali Mandara pada sesi latihan sebelumnya di sekolah. Meski ada pertanyaan yang cukup menggelitik, namun tim juri lebih banyak memberika saran serta masukan terhadap karya tulis mereka.
Walau belum berhasil menjadi juara tiga besar, namun mereka cukup senang dan bangga dengan apa yang telah mereka raih. Bagaimana tidak, ini merupakan penghargaan pertama yang diterima Marik khususnya dalam bidang karya tulis. Sedangkan Retno pada seminggu sebelum lomba ini telah berhasil meraih juara II dalam lomba karya tulis Bali Mandara. Semua itu akan mereka jadikan sebagai pelajaran agar dapat lebih baik lagi dalam lomba berikutnya yang akan mereka ikuti. Lebih lanjut, penghargaan ini merupakan langkah awal mereka untuk menjadi young scientist Indonesia sehingga dapat berkontribusi terhadap tanah air Indonesia. Hal ini tentu selaras dengan visi sekolah mereka, SMAN Bali Mandara yaitu ”creating future leader with strong moral values, life skills and an awareness of environmental and global issues”.

SESUATU DI BALIK KEJADIAN HARI ITU


Hari tu menjadi hari yang menegangkan sekaligus mengesankan bagi Ni Luh Putu Lilis Sinta Setiawati, Ni Luh Dewi Mahayani, dan Ni Putu Ayu Linda Permitasari. Kelompok ketiga siswi kelas XI SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy) itu merupakan salah satu peserta Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan pada tanggal 21 September 2012. LKTI tingkat SMA, SMK,
MA seregional (Bali, Jawa, Nusa Tenggara) tersebut berlangsung di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali.
Setelah menjalani proses pembinaan selama beberapa hari bersama I Wayan Madiya, M.Pd., pembina ekstrakurikuler KIR SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy), naskah karya tulis yang berjudul “Pembangkit Listrik Tenaga Hidrogen dengan Metode Hidro-elektrolisis Untuk Mengembangkan Listrik di Kecamatan Kubutambahan” lolos dalam peringkat 8 besar. Selain naskah, penilaian juga berpedoman pada presentasi dengan akumulasi nilai 60% naskah dan 40% presentasi. Hasil karya ketiga siswi yang akrab dipanggil Lilis, Dewi, dan Linda pun akhirnya keluar sebagai juara ke-3 mengalahkan peserta lainnya dalam ajang itu.
Masing-masing peserta memiliki refleksi dan evaluasi tersendiri dari perlombaan ini. Lilis mengatakan, “kekompakan dalam tim perlu ditingkatkan lagi untuk keberhasilan di lomba-lomba berikutnya”. Sedangkan menurut Dewi, “Dalam mengerjakan sesuatu, semangat harus tetap menggembu dan tidak boleh ada waktu untuk mengeluh”.
Hasil yang didapatkan oleh Lilis, Dewi, dan Linda merupakan hasil kerja keras berbagai pihak. Dukungan serta doa orang tua serta warga sekolah juga tidak lepas sebagai faktor penyemangat mereka. “Hal yang tidak kalah penting adalah dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali dan Putera Sampoerna Foundation sebagai pihak-pihak yang telah memberikan kesempatan pada siswa-siswi SMA Negeri Bali Mandara (Sampoerna Academy) untuk mengenyam pendidikan dan meraih segudang prestasi”, tutur Linda. (LDL)

Minggu, 11 November 2012

Agung Ray, Juara LCC bahasa Indonesia

Bu Guru Ucik, Agung Ray, Pak Mudita
Tangis bahagia tak bisa dibendung seorang siswa SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy). Siswa beruntung itu adalah I Gusti Agung Ray Padmayoni Dewantari. Ia yang mewakili sekolah seorang diri untuk mengikuti LCC Bahasa Indonesia antar siswa
SMA/SMK/MA se-Bali berhasil membawa sebuah piala bergilir dari Pusat Bahasa Denpasar serta piala tetap sebagai juara pertama atas kompetisi itu.
Hari itu Selasa, 23 Oktober 2012 siswa yang lebih akrab dipanggil Agung Ray ini sudah bersiap di depan asrama. Dengan motor matic, ia dan guru pembimbingnya, I Komang Mudita, berangkat menuju tempat perlombaan dengan penuh harap. Dengan satu kalimat penyemangat, berangkat naik motor pulang bawa piala, mereka menghadapi hari itu dengan senyum.
Bertempat di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) penyisihan tahap I dimulai setelah Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) membuka acara secara resmi. Bekerja sama dengan Pusat Bahasa Denpasar, penyisihan dilakukan dengan tes UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia). Dalam penyisihan tahap I, Agung Ray harus menyisihkan 22 pesaing dari total peserta 52 orang untuk bisa melaju ke 30 besar.
Doa tak henti diucapkan ketika panitia membacakan nama 30 orang yang berhasil melaju ke tahap penyisihan II. Kebahagiaan terpancar dari wajah Agung Ray ketika namanya disebutkan pada urutan ke-8. Selang beberapa menit penyisihan tahap II dimulai untuk memperebutkan 8 posisi untuk melanjutkan ke tahap semifinal. Masih seperti penyisihan tahap I, penyisihan tahap II dilaksanakan dengan tes UKBI.
Setelah 40 menit berlalu, tes usai dan perasaan was-was kembali terlihat di wajah Agung Ray sembari menunggu pengumuman hasil tes penyisihan. Seorang panitia berdiri di depan semua orang yang hadir saat itu dan mengumumkan 8 orang finalis yang akan melanjutkan ke babak semifinal.
“Awalnya saya pikir saya bukan satu dari delapan orang itu, hingga urutan ke-7 nama saya belum disebut dan saya pikir peluang itu semakin kecil,” ungkapnya, “beruntungnya di urutan ke-8 nama saya disebut.” Ungkapan itu yang sempat diucapkan Agung Ray sebelum ia menghadapi lawan-lawannya di semifinal.
Semifinal dilaksanakan dalam dua ronde, Agung Ray berkesempatan untuk menghadapi lawannya di semifinal ronde 2. Dalam semifinal itu ia harus menghadapi tiga lawan yang tangguh dalam tiga ronde. Ronde pertama adalah soal amplop, dari 10 soal yang disediakan dalam satu amplop Agung Ray berhasil menjawab 8 soal dengan benar.
Setelah soal amplop, dilanjutkan dengan soal operan. Soal yang harus dijawab hanya 5 namun Agung Ray mampu menjawab 8 soal, 3 soal lainnya didapat dari operan lawannya. Dalam ronde terakhir Agung Ray harus beradu cepat dengan lawan-lawannya untuk menjawab 10 soal yang disediakan. Di akhir babak semifinal Agung Ray berhasil memimpin dengan skor lebih dari 1600, ia bersama satu pesaing lain dari SMK N 1 Denpasar melaju ke babak final untuk memperebutkan posisi pertama.
Di babak final ia bertemu dengan siswa dari SMA N 1 Denpasar, SMA LAB Undiksha, serta SMK N 1 Denpasar. Dalam babak final ini Agung Ray tidak hanya mengandalkan kemahiran dalam berbahasa Indonesia, ia juga menggunakan analisis peluang dalam mempertahan poinnya. Masih seperti semifinal, final juga dibagi menjadi 3 babak. Berdasarkan hasil di babak soal amplop dan soal operan, Agung Ray memimpin dengan perolehan poin 750. Dari hasil dua babak itu, Agung Ray menjalani babak final dengan analisis nilai dan menjawab soal dengan sangat hati-hati. Ia mempertahankan poinnya sementara lawan-lawannya mendapatkan pengurangan nilai di babak rebutan karena salah menjawab soal.
Pada akhirnya, juri membacakan pemenang yang dimulai dari juara ke-2. Dalam ketegangan itu Agung Ray memanjatkan doa tak henti-hentinya, ia berusaha menguatkan diri untuk menerima segala hasil perlombaan. Ketika namanya disebut sebagai juara pertama tak terelakkan lagi air mata mengalir dari kedua matanya.
“Saya benar-benar tidak menyangka, dengan persiapan intensif yang hanya 3 hari saya bisa membawa pulang piala bergilir itu.” jawabnya singkat dengan sedikit terbata-bata ketika ditanya tentang perasaannya setelah mendapat juara pertama.
Di akhir Agung Ray mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia yang telah memberikannya kesempatan untuk berprestasi, begitu pula kepada dua orang pembinanya, I Komang Mudita dan Komang Ayu Suciartini, atas bimbingan mereka. Persiapan selama 4 hari dimanfaatkan secara efektif oleh Agung Ray untuk mempelajari materi lomba dengan bimbingan kedua gurunya. Agung Ray menambahkan, ia tak mungkin bisa mendapat ketenangan ketika menjawab soal bila tidak ada doa dari semua warga SMA N Bali Mandara (Sampoerna Academy). Satu ungkapan terakhirnya bahwa apa yang ia dapatkan hari itu dipersembahkan untuk Ayahanda tercinta.

Minggu, 04 November 2012

Leadership Camp SMAN Bali Mandara, Pembentuk Embrio Pemimpin Masa Depan


LEADERSHIP CAMP 2012, 3-4 November 2012


Hawa dingin menyambut hangat rombongan peserta Leadership Camp SMAN Bali Mandara (Sampoerna Academy). Semakin memasuki daerah camp di Candikuning, pekatnya aroma kopi mulai tercium. Di tengah harumnya bau kopi tersebut, terpancar jelas wajah-wajah calon pemimpin siswa SMAN Bali Mandara. Leadership camp ini diselenggarakan oleh Putra Sampoerna Foundation dalam rangka menciptakan embrio pemimpin masa depan yang diselenggarakan selama dua hari.
Pagi itu, dengan resmi Leadership Camp dibuka oleh pihak Sampoerna Foundation. Antusias dan semangat tak bisa lebas dari raut wajah peserta camp. Pertama-tama, mereka diwajibkan mencari teman satu kelompok yang sudah di tempel di kanan kiri jalan kecil menuju lokasi camp. Uniknya, nama-nama kelompok dan nama panitia menggunakan istilah yang dipakai pada saat zaman Kerajaan Mahabharata. Seluruh kegiatan Leadership Camp ini dikoordinir oleh Pradnyagama sebagai Event Organisernya.
Acara Leadership Camp ini dikemas menarik dengan berbagai jenis games. Berbagai jenis games tersebut bertema kepemimpinan yang menjadi media menarik dalam menyalurkan nilai-nilai karakter pada seorang pemimimpin. Setelah memainkan berbagai jenis games yang mengasah pikiran pasa peserta, acara dilanjutkan dengan pemberian materi-materi tentang kepemimpiinan dan living value oleh beberapa psikolog dari Pradnyagama.
Suasana sejuk angin malam yang berkolaborasi dengan gemerlapnya cahaya bulan menjadi pelengkap acara api unggun. Dengan bangga, masing-masing kelompok membawakan penampilan drama yang bertemakan kepahlawanan. Dalam acara ini, kita diajarkan untuk menjadi seorang pemimpin yang berani tampil di hadapan orang banyak. Selain itu, makna lain dari acara ini adalah sebagai seorang pemimpin kita senantiasa harus berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
 Acara di hari kedua pun tak kalah seru dengan hari sebelumnya. Para siswa masih tetap semangat walaupun hawa dingin menusuk tulang, tetapi hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka. Acara outbond yang dilaksanakan di pinggir Danau Beratan menambah kegembiraan. Permainan menjaga balon dan mengangkat gelas dengan menggunakan sehelai serbet berhasil memberikan pembelajaran yang sangat bermakna bagi siswa. Pengendalian emosi, kesabaran, dan kebersamaan telah mereka dapatkan melalui permainan ini.
Acara penutupan adalah acara yang paling menegangkan sekaligus mengharukan. Wajah tegang para siswa terlihat saat pengumuman pemenang dari kegiatan dan games yang sudah dilaksanakan selama dua hari. Kelompok Dewi Ratih lahir sebagai pemenang pertama, Rama sebagai juara ketiga, dan Laksamana sebagai juara ketiga. Senyum kebanggaan mulai merekah bagi kelompok yang berhasil menjadi juara. Selain itu, ada juga penghargan bagi 10 tokoh leader terbaik. Penyematan scraf  menjadi tanda bahwa seluruh siswa telah berhasil melewati leadership camp sekaligus sebagai tanda bahwa berakhirnya kegiatan ini.
Dengan diadakannya pelatihan leadership camp ini siswa Smanbara diharapkan lebih dapat melatih kepekaan mereka terhadap lingkungan di sekitarnya. Tak lupa, melalui pelatihan ini, juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk memaknai nilai-nilai kehidupan sebagai calon pemimpin kelak.
Leadership camp merupakan program lanjutan dari leadership corss. Meskipun hanya berlangsung selama dua hari, leadership camp mampu menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dengan baik. Nilai-nilai yang ditanamkan terintegrasi langsung dalam kehidupan nyata siswa. Bagi sekolah-sekolah lainnya juga diharapkan bisa menyelenggarakan pelatihan leadership camp untuk membentuk calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia.(Susila dan Sandra/SMAN Bali Mandara (Sampoerna Academy)

2 Saksi Sejarah Bali

2 tokoh Veteran Bali yang merupakan saksi sejarah perjuangan kemerdekaan RI. Bapak I Gede Dana yang sekilas seperti Gusdur adalah pengarang lagu Bali "Merah Putih, benderan titiyange". Bapak Prof I wayan Wedha salah satu tokoh pendidikan Bali